Gandum & Madu

Cerita

Mengapa Kami Memilih Sourdough: Sabar Menunggu 36 Jam

Sourdough tidak bisa diburu-buru. Inilah cerita kami belajar bersabar demi roti dengan kulit renyah dan rasa yang khas.

4 menit baca Tim kami

Mengapa Kami Memilih Sourdough: Sabar Menunggu 36 Jam

Ketika pertama kali mencoba membuat sourdough, kami gagal berkali-kali. Adonan terlalu lengket, roti tidak mengembang, dan rasa asamnya tidak karuan. Namun dari kegagalan itulah kami belajar bahwa roti yang baik butuh waktu.

Rahasia ada pada fermentasi

Sourdough memakai ragi alami yang dibiakkan dari tepung dan air. Prosesnya lambat, sekitar 36 jam dari adonan sampai masuk oven. Selama itu, adonan perlahan membentuk rasa, aroma, dan tekstur yang tidak bisa ditiru oleh roti cepat saji.

  • Kulit renyah dan berwarna cokelat keemasan
  • Bagian dalam kenyal dengan rongga yang tidak rata
  • Rasa sedikit asam yang segar dan tidak menyengat

Cara menikmati sourdough

Roti ini paling enak dimakan dalam keadaan hangat. Panggang sebentar dengan oven atau teflon, lalu oles butter atau minyak zaitun. Bisa juga dipakai untuk sandwich dengan telur dan alpukat, atau dicocol ke sup hangat.

Tetap bahagia dengan yang sederhana

Kami juga tetap membuat roti sobek susu yang lembut dan croissant yang berlapis-lapis, karena setiap orang punya roti favorit masing-masing. Semuanya dipanggang setiap pagi dan tanpa pengawet.

Ingin mencoba sourdough kami? Karena jumlahnya terbatas, kamu bisa mengirim pesan lewat WhatsApp untuk memesan lebih dulu. Kami simpankan satu untukmu.

Baca juga

Artikel lainnya

Semua artikel
Demo #68 · Kue & Bakery Gaya Arch — semua isi bisa diganti
Template lain Pakai ini